Jakarta, NatDigital — Pembukaan akses baru di Stasiun Cikini resmi dilakukan oleh PT KAI Commuter pada Senin (16/9/2025). Fasilitas ini memungkinkan penumpang keluar masuk stasiun tanpa harus mencari jalan memutar atau melompati pagar seperti yang selama ini kerap terjadi. Akses tambahan ini langsung disambut positif oleh pengguna KRL, terutama yang bekerja dan beraktivitas di sekitar kawasan Menteng dan Cikini, Jakarta Pusat.
Selama bertahun-tahun, penumpang KRL di Stasiun Cikini menghadapi kendala akses terbatas di pintu keluar. Kondisi tersebut membuat sebagian penumpang memilih jalur pintas dengan melompati pagar, meski berisiko terhadap keselamatan. Menurut catatan internal KAI Commuter, laporan mengenai penumpang yang nekat melanggar aturan tercatat meningkat 20 persen dalam dua tahun terakhir.
Akses baru yang dibangun terhubung langsung dengan Jalan Cikini Raya sehingga mempermudah mobilitas warga. Selain itu, fasilitas dilengkapi dengan jalur pedestrian yang ramah bagi pejalan kaki serta ruang tunggu yang lebih luas. Pihak KAI Commuter menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari program peningkatan pelayanan transportasi berbasis keselamatan.
Manajer Humas KAI Commuter, Leza Arlan, menyebut bahwa proyek akses baru tersebut menelan biaya Rp4,5 miliar dengan waktu pengerjaan sekitar enam bulan. Menurutnya, dana pembangunan bersumber dari alokasi investasi infrastruktur transportasi perkotaan yang diprioritaskan untuk jalur padat penumpang. “Fokus kami adalah mengurangi praktik berbahaya seperti melompati pagar sekaligus memberi kenyamanan bagi masyarakat,” ujarnya.
Masyarakat pengguna KRL menyambut baik pembukaan akses baru ini. Salah seorang penumpang, Dina, mengaku kini perjalanan menuju kantornya di kawasan Gondangdia menjadi lebih cepat. “Dulu saya harus mutar cukup jauh, kadang lihat orang nekat lompat pagar, sekarang sudah ada jalur resmi jadi lebih aman,” kata Dina saat ditemui di Stasiun Cikini.
Selain di Stasiun Cikini, PT KAI Commuter berencana memperluas akses serupa di sejumlah stasiun padat penumpang lain, seperti Tebet, Manggarai, dan Tanah Abang. Rencana itu merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan pelayanan transportasi publik di Jakarta. Dengan akses yang lebih baik, diharapkan minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi massal akan semakin meningkat dan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di ibu kota.
