Mengapa Masyarakat Lebih Mudah Menghujat dari pada Mendukung?

 

Penulis: Natasyah Aulia 

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, terutama di era digital,hujatan terasa semakin menonjol. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang interaksi positif, justru sering dipenuhi komentar negatif, kritik kasar, hingga perundungan daring. Sementara itu, apresiasi atau dukungan terhadap sesuatu sering kali kalah bising, tenggelam di balik riuhnya hujatan. Fenomena ini bukan hanya sekadar tren, melainkan cerminan bagaimana masyarakat kita merespons suatu isu, kebijakan, maupun sosok publik. Pertanyaan pun muncul: mengapa masyarakat lebih mudah menghujat daripada mendukung?

Pertama, hujatan lebih cepat memicu respons emosional dibandingkan dukungan. Otak manusia cenderung bereaksi lebih kuat terhadap hal-hal yang dianggap negatif. Ketika seseorang membaca berita atau melihat unggahan yang tidak sesuai ekspektasi, respons spontan biasanya berupa kritik. Inilah yang disebut negativity bias, kecenderungan manusia memberi perhatian lebih besar pada hal buruk ketimbang hal baik. Hasilnya, hujatan lebih mudah muncul karena dianggap melegakan, meskipun tidak selalu menyelesaikan masalah.

Kedua, budaya kritik di masyarakat kita masih belum terbentuk dengan baik. Kritik sering dipahami sebagai hujatan, bukan masukan yang membangun. Akibatnya, masyarakat terbiasa melontarkan komentar tajam tanpa memikirkan dampaknya. Padahal, ada perbedaan besar antara mengkritik dan menghujat. Kritik membutuhkan argumentasi logis dan data pendukung, sedangkan hujatan lebih menekankan pada emosi. Kurangnya literasi komunikasi ini membuat ruang publik, terutama media sosial, penuh dengan ujaran kebencian alih-alih diskusi sehat.

Ketiga, faktor psikologis juga berperan besar. Hujatan kerap menjadi cara pelampiasan frustrasi. Saat seseorang menghadapi tekanan hidup, pekerjaan, atau masalah pribadi, melampiaskannya di ruang publik terasa lebih mudah. Fenomena ini diperkuat oleh sifat anonim di dunia digital. Banyak orang merasa lebih berani mengeluarkan kata-kata kasar karena identitasnya tersembunyi di balik layar. Hasilnya, media sosial sering menjadi tempat “buang sampah emosi” daripada ruang membangun solidaritas.

Selain itu, sistem sosial kita juga memberi lebih banyak sorotan pada hal-hal negatif. Media cenderung lebih sering mengangkat kontroversi, skandal, atau konflik dibandingkan prestasi atau keberhasilan. Hal ini memengaruhi pola pikir masyarakat. Dukungan dianggap tidak menarik untuk dibicarakan, sementara hujatan bisa memicu perhatian luas. Misalnya, sebuah kesalahan kecil dari figur publik sering kali viral, sedangkan kerja keras atau kontribusinya justru kurang diperhatikan. Pola konsumsi informasi seperti ini membuat masyarakat lebih mudah terbiasa menghujat.

Namun, bukan berarti masyarakat tidak bisa berubah. Banyak contoh menunjukkan bahwa dukungan juga bisa menjadi kekuatan besar jika dibiasakan. Ketika ada gerakan sosial positif, dukungan warganet mampu mengangkat isu hingga masuk ke agenda publik. Sayangnya, momen ini masih kalah jumlah dibandingkan hujatan. Artinya, perubahan diperlukan bukan hanya di tingkat individu, melainkan juga secara sistemik. Literasi digital, pendidikan komunikasi, serta penguatan budaya apresiasi harus terus digaungkan agar dukungan mendapat tempat yang lebih luas.

Pada akhirnya, kecenderungan masyarakat lebih mudah menghujat daripada mendukung merupakan refleksi dari kondisi sosial, psikologis, dan budaya komunikasi kita. Hujatan memang terasa lebih cepat dan instan, tetapi dukungan memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih konstruktif. Jika kita ingin membangun masyarakat yang sehat secara sosial, sudah saatnya menggeser kebiasaan tersebut. Memberikan apresiasi, sekecil apa pun, jauh lebih bernilai daripada menambah barisan hujatan. Karena pada dasarnya, membangun selalu lebih sulit daripada meruntuhkan, dan dukungan adalah fondasi yang mampu menjaga keberlangsungan hidup bersama.

NatDigital.com

NatDigital.com adalah blog jurnalistik karya Natasyah Aulia Rahman, mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta. Blog ini menghadirkan lima rubrik utama — News, Opini, Reportase, Feature, dan Lifestyle — yang dikemas dengan gaya kritis, inspiratif, dan khas anak muda. Melalui tulisan-tulisan di NatDigital.com, pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang baru: informatif, reflektif, dan penuh makna.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama